Cahaya yang lewat dari sela-sela daun terasa semakin dingin, menandakan matahari sudah mulai turun dan bersiap-siap menerangi belahan dunia yang lain. Jalan setapak yang kulewati dihiasi dengan warna hijau segar rerumputan yang tumbuh. Dan di sekitarku, pohon dengan batang pohon coklat pekat, menjulang tinggi dengan rimbunan daun hijau tua. Menjulang dengan angkuh sehingga langit biru yang mulai memekat dan kejinggaan hanya mengintip sedikit membalas pandanganku saat mendongak ke atas. Dan matahari? Hanya sedikit menerangi, selebihnya awan menuruti kata angin dan mengumpul serta menumpahkan tumpukan airnya menjadi tetesan hujan deras.
Kufokuskan pandanganku ke depan, hawa senja serta hujan menciptakan kumpalan kabut di depanku. Kakiku mendadak berhenti mengikuti perintah otakku, sesaat aku waspada dengan gumpalan kabut yang mulai turun untuk menutupi tanah. Waspada dan khawatir gumpalan tersebut akan menutupi pandanganku serta memutus kinerja pikiranku sehingga aku tersesat di hutan seperti ini.
Tetapi selanjutnya yang kulakukan adalah kembali mendongakan kepalaku ke atas. Warna langit belum berubah pekat. Tanda malam belum hendak menyapa dengan cepat. Dan aku diam masih menatap kabut yang melayang mendekat, dan malah menepi mendekati dahan pohon yang kokoh dan duduk di sana. Kubuka tasku dan membuka bekalku, sisa makananku masih utuh dan aku memakannya sedikit untuk mengusir kepanikanku karena kabut yang mendekat. Tanganku yang bebas bermain dengan rumput tebal yang menjadi alasku untuk duduk, dan perlahan mencabut rumput lemah tersebut.
Udara semakin dingin, menambah keheningan serta kemisteriusan hutan yang sudah ketelusuri sejak pagi tadi. Dengan keheningan seperti ini, indra telingaku dapat menangkap suara serangga-serangga kecil serta burung tekukur. Mataku terpejam, aku ingin dapat mendengarkan gesekan daun. Atau suara langkah kelinci atau tupai. Atau jika aku menambah daya konsentrasi, aku dapat mendengar suara pohon bernapas.
Tapi suara lain, bukan suara binatang, melainkan suara manusia.
Suara seorang pria mengalunkan sebuah lagu dengan nada suara tinggi. Dan suara dentingan gitar menemani suaranya. Aku membuka mataku, dan memperhatikan sekitarku yang masih memiliki pemandangan yang sama. Dan suara nyanyian tersebut terus berlanjut. Tanpa menimbulkan suara aku membereskan bekal dan memasukannya ke dalam tas, aku berdiri dan berusaha menjauh untuk pergi sesegera mungkin dari tempat ini. Dan aku bergidik ngeri saat melihat kabut semakin menebal. Kuperhatikan kembali langit, dan warnanya berubah menjadi lembayung. Dan suara pria asing di tengah hutan itu masih mengalun dengan gitarnya. Lembut tanpa ancaman. Dan instingku mempertajam indra pendengaranku, dan menyuruhku untuk menghampiri suara itu.
Aku berjalan tegap dan berdoa semoga suara itu tidak menghilang. Aneh, karena perasaan ini bertolak belakang dengan perasaan awalku saat mendengar suara misterius itu. Sesekali suara burung tekukur menyahut suara nyanyian, membuat rasa penasaran menggelitik perasaanku. Dan kabut yang seakan mengejarku seolah menutunku untuk mendekati dan menangkap suara pria itu. Dan aku mencoba untuk tetap menelusuri jalan setapak, dan rasa panik menjalar saat kusadari deretan pohon mempersempit luas jalan setapakku. Tetapi aku terus mencari suara yang semakin mendekat itu. Dan saat aku berbalik, kepanikan semakin menghantuiku dengan kenyataan jalan yang kulewati tadi sudah tertutup sepenuhnya oleh kabut. Dan aku berhenti saat menyadari bahwa aku sudah tidak berada di jalan setapak. Yang bisa kulakukan sekarang adalah menembus pepohonan. Karena di sanalah suara pria itu.
Aku menembus pohon, dan berusaha untuk berjalan semakin cepat menembus pepohonan. Beberapa meter di depanku, karena suara misterius itu semakin jelas. Dan saat itu lah aku melihat sedikit cercah cahaya, dan aku berjalan semakin cepat melewati himpunan pohon yang menipis. Dan saat itu lah, aku dapat melihat cahaya dan terkejut saat di hadapanku terdapat hamparan tanah luas yang dikelilingi oleh pohon besar. Dan saat itu lah aku dapat melihat langit yang menyapaku tanpa perlu dihalangi oleh pohon.
Dan seorang pria, duduk di atas bongkahan batu besar dengan gitarnya. Mengalunkan nada tinggi dengan liku bersama gitarnya. Dan ia tidak memperhatikan keberadaanku.
Saat itu aku mendekat berusaha untuk meminimalisir suara, dan saat itu lah tangan lentik pemuda tersebut berhenti memetik gitarnya dan membuka matanya untuk menatapku.
Jarak antara aku dan pria itu sekitar 10 meter, tapi aku dapat menebak sepasang matanya bewarna biru cerah, walaupun tertutupi oleh pupil matanya yang berakomodasi dengan cahaya temaram. Rambutnya coklat tua dan panjang. Di balik jenggotnya yang nyaris menutupi seluruh wajahnya, aku dapat memperkirakan umur pemuda itu tidak terlalu tua. Kira-kira sekitar lima tahun lebih tua daripada aku. Dan di balik jenggot tebalnya, bibir pria itu bergerak memberikan senyum padaku. Sejujurnya aku sedikit takut jika pria itu berbahaya, tapi saat itu aku lebih takut kabut yang menutupi pandanganku di belakang dan merasa aman berada di sini.
“Bukan hal lumrah untuk seorang gadis berkeliaran di hutan sendirian.”
Nada suaranya berada pada nada suara tengah, dengan suara halus sempurna.
“Aku impulsif,” ujarku. “Aku memang sedikit takut mendengar suaramu, tapi toh aku ke sini juga.. penasaran mengapa masih ada manusia yang bernyanyi di hutan ini sendirian padahal waktu sebentar lagi malam.”
“Kau takut terhadapku?”
Sejujurnya, ya.
“Kuharap instingku benar. Kurasa kau tidak berbahaya.”
Pria itu kembali melengkungkan senyum di balik jenggotnya. Sinar kebiruan dari matanya menghilang seiring dengan senja yang semakin gelap. Ia tidak menimpali kata-kataku, hanya menatapku. Perlahan jari lentiknya memetik gitar dan membentuk nada. Ia tidak bernyanyi, tetapi entah mengapa aku yakin senja dan hutan mengikuti petikan nada yang dibentuk olehnya. Kakiku lunglai dan tertekuk di sampingnya. Mendengar setiap petikan nada, dan perlahan suara dengan nada tinggi pria itu. Menyenandungkan senandung bersama hutan.
Senja saat itu sudah pudar, langit diganti dengan malam. Aku memperhatikan perubahan cahaya di sekitarku. Warna dahan berubah pekat, warna daun dan rumput hijau berubah menjadi kebiruan. Saat itu seluruhnya terasa mengerikan. Kecuali langit yang kali ini bebas tertawa dan menyapa, yang bewarna biru dihiasi dengan taburan bintang sempurna. Saat itu aku tidak percaya aku hidup di dunia yang sesungguhnya. Aku seperti hidup di dunia lain.
Entah berapa lama, kurasa lama sekali, dan suara dentingan gitar dan suara indah pemuda itu berhenti. Aku mengalihkan pandanganku dari tumpukan bintang dan menatap pemuda itu. Ia membungkus gitarnya, dan berdiri.
“Kau mau ke mana?” tanyaku, terusik dari kenyataan tidak bisa mendengar suara indahnya.
“Sudah malam, saatnya pulang. Tempat ini tidak seindah siang saat malam semakin larut.”
Aku tetap berada dalam posisiku, berharap kehikmatan yang kurasakan tadi dapat dilanjutkan. Tetapi pemuda itu masih menatapku dengan tatapan aneh. Perlahan ia mendekat dan mengulurkan tangannya, “Ayo, aku antar kau pulang.”
Aku menyambut uluran tangannya. Dan aku terkesiap saat merasakan tangannya terasa kasar. Dan ia tidak melepaskan tanganku barang sedikit pun. Aku mengikutinya berjalan melintasi hutan menuju jalan setapak yang lain. Baik aku dan ia tidak sekali pun berbicara. Dan percakapan yang seharusnya terjadi digantikan oleh suara binatang hutan malam. Aku terus menggenggam tangannya erat, karena aku mempercayainya.
Beberapa menit kemudian kami keluar sepenuhnya dari hutan. Desa tempat tinggalku terdampar dengan hiasan lampu malam yang dipasang di setiap rumah. Kedua orangtuaku pasti khawatir aku pulang terlalu malam. Aku harus kembali.
“Kau bisa sendiri ke rumahmu kan?” tanya pemuda itu.
Aku menatapnya, dan mengangguk.
“Baiklah. Sampai jumpa?”
Dan aku bisa merasakan tangannya menggelitik tanganku, dan aku sadar aku masih menggenggam tangannya. Aku segera melepaskan tanganku dari tangan pemuda itu. Dan aku bersyukur waktu sudah malam, aku pastikan wajahku merona merah dan pemuda misterius yang kutemui dapat melihatnya.
“Terimakasih,” ucapku. Dan ia mengangguk dan berbalik menuju bukit. Dan aku berbalik sambil berlari kecil menuju rumahku, tanpa berbalik ke belakang.
***
dibuat sambil dengerin lagunya Devendra Banhart – Cristobal

