Cristobal

Cahaya yang lewat dari sela-sela daun terasa semakin dingin, menandakan matahari sudah mulai turun dan bersiap-siap menerangi belahan dunia yang lain. Jalan setapak yang kulewati dihiasi dengan warna hijau segar rerumputan yang tumbuh. Dan di sekitarku, pohon dengan batang pohon coklat pekat, menjulang tinggi dengan rimbunan daun hijau tua. Menjulang dengan angkuh sehingga langit biru yang mulai memekat dan kejinggaan hanya mengintip sedikit membalas pandanganku saat mendongak ke atas. Dan matahari? Hanya sedikit menerangi, selebihnya awan menuruti kata angin dan mengumpul serta menumpahkan tumpukan airnya menjadi tetesan hujan deras.

Kufokuskan pandanganku ke depan, hawa senja serta hujan menciptakan kumpalan kabut di depanku. Kakiku mendadak berhenti mengikuti perintah otakku, sesaat aku waspada dengan gumpalan kabut yang mulai turun untuk menutupi tanah. Waspada dan khawatir gumpalan tersebut akan menutupi pandanganku serta memutus kinerja pikiranku sehingga aku tersesat di hutan seperti ini.

Tetapi selanjutnya yang kulakukan adalah kembali mendongakan kepalaku ke atas. Warna langit belum berubah pekat. Tanda malam belum hendak menyapa dengan cepat. Dan aku diam masih menatap kabut yang melayang mendekat, dan malah menepi mendekati dahan pohon yang kokoh dan duduk di sana. Kubuka tasku dan membuka bekalku, sisa makananku masih utuh dan aku memakannya sedikit untuk mengusir kepanikanku karena kabut yang mendekat. Tanganku yang bebas bermain dengan rumput tebal yang menjadi alasku untuk duduk, dan perlahan mencabut rumput lemah tersebut.

Udara semakin dingin, menambah keheningan serta kemisteriusan hutan yang sudah ketelusuri sejak pagi tadi. Dengan keheningan seperti ini, indra telingaku dapat menangkap suara serangga-serangga kecil serta burung tekukur. Mataku terpejam, aku ingin dapat mendengarkan gesekan daun. Atau suara langkah kelinci atau tupai. Atau jika aku menambah daya konsentrasi, aku dapat mendengar suara pohon bernapas.

Tapi suara lain, bukan suara binatang, melainkan suara manusia.

Suara seorang pria mengalunkan sebuah lagu dengan nada suara tinggi. Dan suara dentingan gitar menemani suaranya. Aku membuka mataku, dan memperhatikan sekitarku yang masih memiliki pemandangan yang sama. Dan suara nyanyian tersebut terus berlanjut. Tanpa menimbulkan suara aku membereskan bekal dan memasukannya ke dalam tas, aku berdiri dan berusaha menjauh untuk pergi sesegera mungkin dari tempat ini. Dan aku bergidik ngeri saat melihat kabut semakin menebal. Kuperhatikan kembali langit, dan warnanya berubah menjadi lembayung. Dan suara pria asing di tengah hutan itu masih mengalun dengan gitarnya. Lembut tanpa ancaman. Dan instingku mempertajam indra pendengaranku, dan menyuruhku untuk menghampiri suara itu.

Aku berjalan tegap dan berdoa semoga suara itu tidak menghilang. Aneh, karena perasaan ini bertolak belakang dengan perasaan awalku saat mendengar suara misterius itu. Sesekali suara burung tekukur menyahut suara nyanyian, membuat rasa penasaran menggelitik perasaanku. Dan kabut yang seakan mengejarku seolah menutunku untuk mendekati dan menangkap suara pria itu. Dan aku mencoba untuk tetap menelusuri jalan setapak, dan rasa panik menjalar saat kusadari deretan pohon mempersempit luas jalan setapakku. Tetapi aku terus mencari suara yang semakin mendekat itu. Dan saat aku berbalik, kepanikan semakin menghantuiku dengan kenyataan jalan yang kulewati tadi sudah tertutup sepenuhnya oleh kabut. Dan aku berhenti saat menyadari bahwa aku sudah tidak berada di jalan setapak. Yang bisa kulakukan sekarang adalah menembus pepohonan. Karena di sanalah suara pria itu.

Aku menembus pohon, dan berusaha untuk berjalan semakin cepat menembus pepohonan. Beberapa meter di depanku, karena suara misterius itu semakin jelas. Dan saat itu lah aku melihat sedikit cercah cahaya, dan aku berjalan semakin cepat melewati himpunan pohon yang menipis. Dan saat itu lah, aku dapat melihat cahaya dan terkejut saat di hadapanku terdapat hamparan tanah luas yang dikelilingi oleh pohon besar. Dan saat itu lah aku dapat melihat langit yang menyapaku tanpa perlu dihalangi oleh pohon.

Dan seorang pria, duduk di atas bongkahan batu besar dengan gitarnya. Mengalunkan nada tinggi dengan liku bersama gitarnya. Dan ia tidak memperhatikan keberadaanku.

Saat itu aku mendekat berusaha untuk meminimalisir suara, dan saat itu lah tangan lentik pemuda tersebut berhenti memetik gitarnya dan membuka matanya untuk menatapku.

Jarak antara aku dan pria itu sekitar 10 meter, tapi aku dapat menebak sepasang matanya bewarna biru cerah, walaupun tertutupi oleh pupil matanya yang berakomodasi dengan cahaya temaram. Rambutnya coklat tua dan panjang. Di balik jenggotnya yang nyaris menutupi seluruh wajahnya, aku dapat memperkirakan umur pemuda itu tidak terlalu tua. Kira-kira sekitar lima tahun lebih tua daripada aku. Dan di balik jenggot tebalnya, bibir pria itu bergerak memberikan senyum padaku. Sejujurnya aku sedikit takut jika pria itu berbahaya, tapi saat itu aku lebih takut kabut yang menutupi pandanganku di belakang dan merasa aman berada di sini.

“Bukan hal lumrah untuk seorang gadis berkeliaran di hutan sendirian.”

Nada suaranya berada pada nada suara tengah, dengan suara halus sempurna.

“Aku impulsif,” ujarku. “Aku memang sedikit takut mendengar suaramu, tapi toh aku ke sini juga.. penasaran mengapa masih ada manusia yang bernyanyi di hutan ini sendirian padahal waktu sebentar lagi malam.”

“Kau takut terhadapku?”

Sejujurnya, ya.

“Kuharap instingku benar. Kurasa kau tidak berbahaya.”

Pria itu kembali melengkungkan senyum di balik jenggotnya. Sinar kebiruan dari matanya menghilang seiring dengan senja yang semakin gelap. Ia tidak menimpali kata-kataku, hanya menatapku. Perlahan jari lentiknya memetik gitar dan membentuk nada. Ia tidak bernyanyi, tetapi entah mengapa aku yakin senja dan hutan mengikuti petikan nada yang dibentuk olehnya. Kakiku lunglai dan tertekuk di sampingnya. Mendengar setiap petikan nada, dan perlahan suara dengan nada tinggi pria itu. Menyenandungkan senandung bersama hutan.

Senja saat itu sudah pudar, langit diganti dengan malam. Aku memperhatikan perubahan cahaya di sekitarku. Warna dahan berubah pekat, warna daun dan rumput hijau berubah menjadi kebiruan. Saat itu seluruhnya terasa mengerikan. Kecuali langit yang kali ini bebas tertawa dan menyapa, yang bewarna biru dihiasi dengan taburan bintang sempurna. Saat itu aku tidak percaya aku hidup di dunia yang sesungguhnya. Aku seperti hidup di dunia lain.

Entah berapa lama, kurasa lama sekali, dan suara dentingan gitar dan suara indah pemuda itu berhenti. Aku mengalihkan pandanganku dari tumpukan bintang dan menatap pemuda itu. Ia membungkus gitarnya, dan berdiri.

“Kau mau ke mana?” tanyaku, terusik dari kenyataan tidak bisa mendengar suara indahnya.

“Sudah malam, saatnya pulang. Tempat ini tidak seindah siang saat malam semakin larut.”

Aku tetap berada dalam posisiku, berharap kehikmatan yang kurasakan tadi dapat dilanjutkan. Tetapi pemuda itu masih menatapku dengan tatapan aneh. Perlahan ia mendekat dan mengulurkan tangannya, “Ayo, aku antar kau pulang.”

Aku menyambut uluran tangannya. Dan aku terkesiap saat merasakan tangannya terasa kasar. Dan ia tidak melepaskan tanganku barang sedikit pun. Aku mengikutinya berjalan melintasi hutan menuju jalan setapak yang lain. Baik aku dan ia tidak sekali pun berbicara. Dan percakapan yang seharusnya terjadi digantikan oleh suara binatang hutan malam. Aku terus menggenggam tangannya erat, karena aku mempercayainya.

Beberapa menit kemudian kami keluar sepenuhnya dari hutan. Desa tempat tinggalku terdampar dengan hiasan lampu malam yang dipasang di setiap rumah. Kedua orangtuaku pasti khawatir aku pulang terlalu malam. Aku harus kembali.

“Kau bisa sendiri ke rumahmu kan?” tanya pemuda itu.

Aku menatapnya, dan mengangguk.

“Baiklah. Sampai jumpa?”

Dan aku bisa merasakan tangannya menggelitik tanganku, dan aku sadar aku masih menggenggam tangannya. Aku segera melepaskan tanganku dari tangan pemuda itu. Dan aku bersyukur waktu sudah malam, aku pastikan wajahku merona merah dan pemuda misterius yang kutemui dapat melihatnya.

“Terimakasih,” ucapku. Dan ia mengangguk dan berbalik menuju bukit. Dan aku berbalik sambil berlari kecil menuju rumahku, tanpa berbalik ke belakang.

***

dibuat sambil dengerin lagunya Devendra Banhart – Cristobal


Deg-Deg

Wkwkwk. Gw bentar lagi akan mengorbankan rasa malu gw di depan orang-orang yang ga gw kenal.

Semua karena hasil penjualan buku yang ga memuaskan. Sisanya banyak banget. Dan di sini gw deg-deg-an memikirkan reaksi gimana orang-orang tersebut saat gw mengembalikan buku-buku itu dengan jumlah yang masih banyak. Tapi saat itu juga gw memikirkan apa yang akan gw lakukan setelah semua proses itu. Karena gw yakin leganya minta ampun.

Jadi semuanya, wish me luck yah! Hahayyy~


Favorite Place

by: angelabarnett

Well, setelah gw sudah mulai cukup mengaktualisasikan diri gw, mendapatkan banyak achievement dalam bentuk positif, dan pada akhirnya harus istirahat karena udah ga jag-jag lagi… gw ingin menghabiskan sisa hidup gw di tempat seperti ini.

Entahlah, emang dasarnya gw ini introvert murni jadinya gw suka banget ngeliat foto cottage/rumah yang ada di tengah hutan, dan ini alasan kenapa gw ga demen pantai. Terlepas dari suasana yang spooky, bagi gw tempat-tempat kayak gini adalah tempat yang cocok buat gw. Gw dari dulu selalu suka sama letak rumah yang melesak ke dalam dan dipenuhi oleh pohon. Berharap bisa hidup di tempat kayak gitu sendiri sambil maen piano… dan itu bisa gw lakukan kalau gw sudah tua nanti, saat seluruh impian positif gw sudah gw dapatkan. Tsaaahhhhhh.

Well, walaupun agak skeptis tapi rasanya magis banget yah tempat-tempat kayak gini. Gw selalu membayangkan ada peri mini kayak tinkerbell di sela-sela pohon ngintip. Wahahaha~

Ya gituhlah. Sayonara.


Ceritanya Sekarang Saya Sedang Nonton Inception untuk Kesekian Kalinya

I’m sorry… this is very unpopular opinion.

I just… can’t… I just can’t like this movie.

Satu hal dari Inception yang membuat gw annoyed gila-gilaan adalah; dialognya. Mungkin karena emang idenya terlalu brilian, sehingga emang dialognya adalah explanation, penjelasan dan penjelasan. Tapi di sini letak fail luar biasanya. Entah kenapa gw nontonnya ga nyaman. Gw pernah liat film yang butuh penjelasan berat, tapi ga perlu sampe menggurui sekali. Dan Inception dengan dialognya yang penuh penjelasan menggurui, membuat setiap aktornya keliatan cheesy banget, terlalu script. Padahal mereka aktor kawakan semua. Leo DiCaprio jelas kekuatan film ini, tapi tentu saja dibandingin film yang lainnya… jauh banget. Dan alasan kenapa dia keliatan fail, ya di letak dialognya ini.

Ya ini aja deh. Gw cuman mengungkapkan apa yang ada di pikiran gw sambil nonton filmnya. Gw cuman ngerasa lucu aja karena bagaimana pun gw ga nyaman sekali nontonnya.

Memang, The Social Network FTW! :D


Geplak Jidad

Kalau kata gw tahap yang gw lalui sekarang bukan ga peduli, tapi gw baru sadar kalau gw itu sudah move-on begitu jauh.

Gila gimana kemaren gw sebenernya ga shock yah denger apa yang terjadi di dunia itu? Gw cuman bisa geplak jidad walaupun gw sedikit banyak ngerasa kayak gitu pas dulu. Bersalah dikit, tapi kebanyakan, “LAH, toh gw ga ada di situ lagi? Kalau pun gw harus bertanggung jawab, yang gw lakukan adalah BUBARKAN!” Hahaha. Itu aja.

Lagian beneran, kenapa tiba-tiba malah jadi tempat penampungan orang-orang sakit jiwa?

Terlalu harsh yah kata-kata gw. Ok baiklah gw barangkali egois, tapi gila meennnn, gw merasa so much effing better sekarang. Walaupun gw cenderung kesepian (dan ini kata orang worse yah?) tapi ini lebih baik. Hahaha. Ga tau kenapa lega banget gw. Gw punya gawean sehingga bisa pouring my thought on something useful rather than something which will make you like a bullcrap.

Jadi inget jaman dulu kenapa gw susah buat ngelepasin, dan menyesal kenapa ga dari awal ninggalinnya? Coba kalau gw fokus ke kuliah, mungkin ga akan jadi kek gini. Ini memang semua tergangung individu, cuman itu pernah jadi keputusan buruk dalam hidup gw, dan sekarang gw sedang bernapas lega berlari mengejar yang namanya impian nyata. Dan di sana ada yang bilang kalau keputusan gw salah (barangkali), tapi bukan ente semua yang bisa bilang apa yang gw lakukan itu salah atau bener. Ente semua mungkin lebih wise dari gw, tapi tetep aja manusia.

Intinya, jangan bawa-bawa gw lagi, apalagi di akhirat nanti (oh ga percaya akhirat? Wah itu bukan urusan gw, gw ngomong ma yang percaya aja! :D )

Ya udah, semangat aja deh yah! Toh gw ga pernah mendoakan kegagalan, cuman semoga kita semua bisa sadar dan berjalan di jalan yang memang sebenarnya benar. Dan tentu, kalau ketemu pun kita tetep fren kok walaupun udah ga ngurusin urusan masing-masing. 


Barney and Robin

Barney and RobinWaduh waduh… entah kenapa gw kepengen banget ngepost entri yang satu ini. Rencananya gw mau ngepost tuh pic ke Tumblr, tapi pengen gw komen banget. Masalahnya di sana gw dapet tekanan ‘aduh-gw-kepengen-nulis-dengan-bahasa-Inggris’, jadi gw di sini aja nulisnya.

Barney and Robin adalah pasangan favorit gw di serial TV yang gw tonton. Awal gw suka adalah saat-saat Barney ngerasa fall in love sama Robin, di sana gw ship hard mereka banget dah.

Well, di season ini karakter Barney ke-expose agak beda dari biasanya. Selama ini banyak banget yang disembunyikan dengan sangat rapi oleh Barney. Dengan motto-nya ‘when I’m sad, I’m starting being awesome’ (ya kira-kira gituh, gw ga tau persisnya), bener-bener dijadikan motto hidupnya. Dan selama ini kita kira emang Barney ini karakter yang sangat ceria dan stay awesome, sampe akhirnya jadi ga begitu manusiawi, karena kayaknya emang ada uratnya yang putus sehingga dia terlihat luar biasa bajingan. Eh iya, coba kalau emang di sekitar kita ada temen dnegan karakter Barney, siapa pun akan mengira ‘nih-orang-asshole-banget-sumpah’. Tapi namanya juga cerita, Barney tetep karakter favorit kita semua sebajingan apa pun dia.

Tapi di season ini keexpose sisi lainnya Barney. Semua kebahagiaan yang dia ciptakan itu full fake (!) Gw nonton ini di episode saat dia berkunjung ke rumah ibunya, dan dia bener-bener memalsukan kebahagiannya. Kenyataannya adalah, Barney punya daddy-issue yang serius, dan di season ini semuanya ter-expose. Dia bener-bener gamang karena ga punya sosok aya.

Well, dan soal Robin, entah kenapa karakternya di season ini tenggelam banget. Kita tau kalau dia juga punya daddy-issue, dan sangat workaholic. Salah satu alasannya adalah dia kepengen bikin bangga ayahnya. Dan di season ini entah kenapa karakternya undevelop banget. Apalagi episode Robin Sparkles-nya bikin gw kecewa, jadi makin kasian ma Robin.

Sampe akhirnya mereka ketemu di satu scene. Robin berharap Barney bisa menceritakan masalahnya. Dan saat itu Barney punya masalah sama Robin. Masalah kenapa dia harus menceritakan masalahnya pada orang yang ga pernah menceritakan masalahnya?

Di sini gw tertegun sesaat.

Tertegun entah kenapa… mungkin lebay… tapi rasanya mereka berdua emang diciptakan untuk satu sama lain. Bagaimana mereka sama-sama punya masalah yang sama, dan sebenernya mereka itu care satu sama lain. Barney, di sini, juga sebenernya secretly care with Robin. But in his way.

Jadi sekarang gw ngerti kenapa karakter Robin di buat tetep seperti itu. Alias tampak ga ke-develop sama sekali. Ada yang dia sembunyikan, dan nanti akan terbuka juga oleh Barney. Dan tentu saja in the end, they will be together!


Dystopia

Gw sedang demen sama genre dystopia.

Semua bermula dari The Hunger Games. Bacanya sebenernya biasa aja sih, ga ada spesial-spesialnya. Sampe ada yang bilang kalau sebenernya untuk ide seperti itu bukan termasuk ide yang original (padahal gw kira Hunger Games itu original banget). Apalagi permainan saling bunuh antara para remaja itu mah udah pernah diclaim sebagai idenya Battle Royale. Entah apa yang merasuki gw, gw jadi penasaran luar biasa dan akhirnya gw baca juga buku Battle Royale.

Dan gw jauh lebih suka sama Battle Royale. Karena kalau The Hunger Games kesannya basa-basi banget, dan ga langsung ke tujuan (awal permaenan, di mana harus fashion show, itu membuat alis gw naek karena ‘INI LAMA BANGET SIH PERMAINANNYA’). Sedangkan Battle Royale baru dua bab langsung membuat gw gasp gasp gelo. Coba lah bayangkan, lo lagi asyik-asyiknya mau study trip, bangun-bangun udah dikumpulin di sebuah tempat dan disuruh MEMBUNUH SATU SAMA LAIN. Tanpa persiapan apapun (kalau Hunger Games kan ada persiapannya). Ya pokoknya kata gw lebih bagus.

Dan persamaan dari Hunger Games dan Battle Royale (selaen ide permainan saling membunuh satu sama lain), adalah genre-nya yang ternyata namanya keren. Dystopia.

Baiklah, mari kita lihat apa arti dari kata ‘dystopia’ itu sendiri. Summon wikipedia!

A dystopia (from Ancient Greek: δυσ-, “bad, ill”, and Ancient Greek: τόπος, “place, landscape”; alternatively cacotopia,[1] or anti-utopia) is, in literature, an often futuristic society that has degraded into a repressive and controlled state, often under the guise of being utopian. Dystopian literature has underlying cautionary tones, warning society that if we continue to live how we do, this will be the consequence. A dystopia, thus, is regarded as a sort of negative utopia and is often characterized by an authoritarian or totalitarian form of government. Dystopias usually feature different kinds of repressive social control systems, a lack or total absence of individual freedoms and expressions and constant states of warfare or violence. Dystopias often explore the concept of humans abusing technology and how humans individually and collectively cope with technology that has evolved too quickly such as the car, the flamethrower or the microwave. A dystopian society is also often characterized by widespread poverty and brutal political controls such as a large military-like police.

Yeps, baca sendiri dan artiin sendiri yah. Sekarang gw ngeclaim kalau gw adalah penggemar dari genre dystopia itu sendiri.

Dan ternyata itu bukan alasan kenapa gw suka sama genre satu itu. Gw dari jaman SMA, pernah terpikir untuk membuat sebuah novel dengan tema kerusakan sistem politik pemerintahan, di mana setiap manusia dikekang dan diberi kebebasan semu (bebas tapi ga bebas, susah deh). Ya pokoknya begitu. Gw sendiri pas mengungkapkan ke Rhea soal novel kayak gitu, gw sendiri heran. Tema politik sebenernya tema yang anti gw jamah. Tapi entah kenapa gw kepengen buat dengan tema seperti itu.

Yaaa… sampe detik ini ide cerita itu masih diracik di otak gw. Belum tertuang dalam bentuk tulisan. Gw masih buat bagaimana ceritanya. Rencana sementara gw mau buat serial berantai (gw ga tau namanya apa, asal aja ngasih nama ==a). Jadi kayak Supernatural gituh. Mereka kan setiap episode memburu makhluk supernatural, tapi pada akhirnya terjalin sebuah cerita besar. Yaaaa… yang nonton Supernatural tau lah. Yang ga ngerti, tadi gw dah ngasih penjelasan. Moga-moga ngerti.

Tapi yang ada di otak gw masih serial berantai itu. Dan gw ga tau mau dibawa ke mana ceritanya. Udah terpikir sih salah satu ide endingnya seperti apa. Tapi tetep kurang. Dan mungkin perencanaan mengenai apa yang membuat sistem pemerintahannya rusak parah, terus kerusakan moral, terus setting (yang paling penting nih), dan keterkaitan dengan fakta-fakta. Perlu gw cari dan gali lebih lanjut. Tapi yang paling penting adalah permulaan. So far gw pernah membuat permulaan cerita tapi GATOT. Jelek banget. Jadi sampe sekarang ga selese-selese.

Yaaa… permulaan gw buat blog di WordPress karena gw ingin membangun cerita itu. Dan beneran gw kepengen banget proyek gw yang satu itu bisa terwujud. Sampe sekarang masa depan yang bisa gw lihat adalah gw sebagai seorang pengarang yang melangkah jauh di atas JK Rowling. Terus jadi penulis screenwriter, dapet Oscar, dan lain-lain. Tapi yang penting, akan ada poin-poin positif yang diberikan. Dan tentu saja seperti buku-buku terkenal lainnya, mengubah paradigma manusia ke arah yang lebih baik.

Amin.


Lalalalala~

Tiba-tiba… gw dengerin lagu It’s Your Love-nya Gil. Dan gw berada pada titik di mana gw sedih.

Kalau boleh puitis lebay, pikiran gw ada pada orang-orang yang pernah gw sayang dan sekarang mereka pergi ninggalin gw.

Entah apa kabar mereka, apa mereka masih inget gw, apa mereka udah maafin gw, dan apakah mereka selebay gw? Ga tau deh. Gw cuman tiba-tiba sedih aja.

Haaaa.

Ya udah sekian. Terimakasih.


HMMMM

Hmmmm

Tiba-tiba gw ngerasa sedih kenapa selama ini gw lembek banget. Alias, idup gw terlalu plain tanpa masalah yang aneh-aneh. Terlalu plain sampe gw kalau ketemu masalah DIKIT aja langsung keder pengen ngibrit sampe Islandia. Bahasa gaulnya sih ‘pengecut’, tapi ini terlalu harsh. Ya intinya gw agak sedih karena gw tidak terlalu memiliki masa lalu yang membuat gw tercambuk-cambuk sakit.

Oh kecuali pas jaman SD gw diejek gendut sama cowok sekelas. Alhamdulillah kalau sekarang gw dikatain ‘gede’ ‘gendud’, entah kenapa gw ga sedih sama sekali. Hahahaha. Udah kebal mameennn. Gw tatap aja dengan sinis entah kenapa ga ngaruh. Lo katain gw gendut kagak berarti ente jadi sehat (entahlah di mana korelasinya).

Tapi tetep gw kalau diejek yang laen dan ada yang nyindir gw, gw kadang suka jengah sendiri. Tapi kembali ke YAUDAHLAH YAH. Nyindir gw = makan tai gw sendiri. MAMPUS LO GA ENAK KAN? Puh.

Bek ke paragraf satu. Ya gituhlah. Gw yang pernah jadi hanip (hayang nikah pisan), jadi agak-agak mikir buat nikah. GW PENGEN NIKAH KOK, ASLI. GW PENGEN PUNYA ANAK CUCU. Tapi kadang ada pikiran di mana gw ga menginginkan semua itu karena… karena… karena lingkungan sekitar gw malah memberi pikiran negatif pada diri gw soal ‘married’ bla bla bla. Tapi semoga ini pikiran sesaat karena gw tetep kepengen nikah.

Masalahnya adalah kenal cowok juga engga. Pacaran juga ga pernah jadi gw ga tau gimana harus berlaku sebagai seorang pacar (ntar mah langsung jadi istri). Dan mengenal pribadi dan harus menangani pribadi orang laen bukanlah keahlian gw. Gimana kalau jadinya sama-sama egois? Dan gw ini kadang ga peka. Tapi gimana dong mama kepengen gw nikah, ya gw harus nikah (ntar keknya pas gw udah 25 tahun kayaknya, gw pengen ke Inggris dulu).

Yaaa… gw detik ini cuman bisa bersyukur karena gw emang hidup di tengah-tengah keluarga yang kalau punya masalah ga parah-parah amat alias plain-plain aja (walaupun pernah ada huge problem and semua clear karena mama adalah seorang wanita yang religius dan dekat dengan Allah -ada korelasinya kok, yang skeptis pergi dari blog gw (!) ).

Ya intinya entri ini adalah gw agak khawatir dan takut. Tapi gw masih yakin gw bisa sangat sukses (teuteuppp~)


|

Barangkali memang dunia ini berada dalam posisi yang terbalik.

Aku dulu pernah mendengar sebuah kisah dari dosenku mengenai Van Gogh dengan karyanya yang sangat diapresiasi di masa sekarang. Beliau mengatakan Van Gogh mengalami kegilaan karena ia merasa tidak ada yang mengapresiasi karyanya pada saat itu. Entah para penggemar Van Gogh, detik ini aku hanya mengingat apa yang dikatakan oleh dosenku.

Oh ya, beberapa detik yang lalu aku mengeklik beberapa video Youtube dan menontonnya untuk sekedar membunuh waktu. Percayalah, aku memiliki cukup banyak waktu untuk membereskan debu yang tertumpuk di atas gitarku. Atau membereskan selimut yang belum kutata. Atau berangkat ke kamar mandi untuk membersihkan badan agar terasa segar. Atau merenggangkan badan dan melakukan pemanasan kecil untuk mengatur metabolisme tubuh. Tapi aku memilih pagi ini untuk membuka Youtube karena temanku memberitakan band favoritku mengeluarkan single barunya, dan setelah itu aku mengeklik suggestions-nya, dan seluruh waktu yang bisa kulakukan untuk yang lainnya terbunuh dengan percuma.

Dan detik ini aku teringat Jean Baptiste Joseph Fourier. Carl Friedrich Gauss.

Bibirku melengkungkan senyum, pada masa-masa itu setiap orang memiliki waktu sama dua puluh empat jam dan dipakai untuk melakukan hal-hal yang tak berguna. Mmmm, baiklah. Maksudku, sekarang ada Youtube, Facebook, Twitter, dan zaman dahulu tidak ada. Yang mereka lakukan adalah membunuh waktu, bercinta dengan angka-angka sehingga terbuatlah rumus-rumus yang pada masa itu tidak diapresiasi oleh semua orang.

Aku bahkan dapat membayangkan beberapa orang dengan pakaian bergaya Victoria berbicara dengan kepala diangkat tinggi, “Untuk apa ilmu-ilmu tidak berguna ini? Kau menghabiskan hidupmu dengan percuma.”

Aku terlalu lelah dan malas untuk mengetahui hidup Fourier dan Gauss, tapi mungkin nasib mereka adalah menghabisi hidup mereka sendiri karena bosan dengan cercaan manusia pada saat itu. Dan pada tahun 1970, ilmu mereka terpakai. Mengapa aku dapat berpikir seperti ini? Karena kumpulan gambar yang bergerak adalah hasil jerih payah Fourier dan Gauss. Mereka memiliki andil yang besar. Tetapi pada zamannya, mereka dicerca habis-habisan. Jadi memang benar, Fourier dan Gauss memiliki hidup yang sangat percuma dengan membuat rumus yang pada zamannya dicerca habis-habisan. Dan saat ilmu mereka diapresiasi habis-habisan juga, setiap orang terlena dengan manfaat ilmu mereka. Menonton deretan gambar bergerak yang melenakan pikiran mereka. Apa yang terjadi pada manusia zaman sekarang tidak lebih daripada menghabiskan hidup dengan percuma. Menonton video Youtube, bermain video game, menonton hasil render bajakan dari DVD yang dibuat oleh orang industri film dengan susah payah. Aku memang sedang dalam tahap pesimis dan berpandangan negatif, tetapi kembali pada baris awal, barangkali posisi dunia sudah dalam posisi terbalik.

Sama seperti saat dosenku mengatakan bagaimana beruntung anak zaman sekarang dengan informasi yang begitu mudah didapatkan. Benarkah?

Mungkin dengan kemudahan informasi tersebut, beberapa orang tidak bertanggung jawab dengan mudah menjual seluruh informasi kita pada pihak yang sama-sama tidak bertanggung jawab. Apakah saat itu kita semua berada pada posisi ‘beruntung’?

Barangkali pikiranku sekarang berada pada posisi yang sangat negatif.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.